CGTN: Bagaimana Tiongkok Mempersiapkan Awal yang Positif untuk Rencana Pembangunan Lima Tahun Berikutnya dan Membuka Peluang Global

Avatar photo

- Pewarta

Sabtu, 7 Maret 2026 - 01:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEIJING, 7 Maret 2026 /PRNewswire/ — Seiring dimulainya sidang tahunan parlemen Tiongkok, CGTN menerbitkan artikel yang menganalisis berbagai agenda kerja utama untuk tahun mendatang, serta Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15 (2026–2030). Artikel tersebut menyoroti awal yang positif bagi Tiongkok pada 2026 dapat menciptakan peluang baru bagi dunia sekaligus meningkatkan kepercayaan dalam perekonomian global.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Sidang "Dua Sesi" tahun ini memiliki arti penting, karena menandai tahun pertama pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Ke-15, sebuah fase penting dalam perkembangan Tiongkok hingga akhir dekade ini.

Pada Kamis pagi, Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress/NPC) Ke-14, lembaga legislatif tertinggi Tiongkok, membuka sidang keempat di Great Hall of the People di Beijing, satu hari setelah badan penasihat politik tertinggi negara itu memulai sidang tahunan.

Dalam laporan kerja pemerintah yang disampaikan pada pembukaan sidang NPC, Perdana Menteri Li Qiang menyatakan, Tiongkok menargetkan pertumbuhan ekonomi berkisar 4,5%-5% pada 2026, dengan upaya untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam praktiknya.

"Kondisi yang menopang pertumbuhan jangka panjang Tiongkok dan tren dasarnya tetap tidak berubah," ujar Li. "Semakin jelas bahwa Tiongkok menunjukkan keunggulan sistem serta kekuatannya sebagai negara besar."

Ia juga menyerukan upaya untuk memaksimalkan keunggulan tersebut sekaligus menghadapi berbagai tantangan, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik, lemahnya pertumbuhan ekonomi global, serta guncangan terhadap multilateralisme dan perdagangan bebas, guna membuka prospek pembangunan yang lebih menjanjikan.

Awal Positif Berkat Perencanaan Jangka Panjang

Memasuki periode Repelita Ke-15 (2026–2030), tujuan strategis utama Tiongkok tetap sama, yaitu membangun negara sosialis modern, didukung oleh berbagai capaian dalam lima tahun terakhir, terutama pada tahun lalu.

Pada 2025, meski menghadapi berbagai tekanan eksternal, ekonomi Tiongkok tetap menunjukkan daya tahan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5% secara tahunan, serta mencatat kemajuan berkualitas di berbagai sektor ekonomi dan sosial.

Laporan kerja pemerintah juga mencatat sejumlah kemajuan penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kepemimpinan Tiongkok dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan kecerdasan buatan (AI), biomedis, robotika, dan teknologi kuantum.

Total nilai ekonomi Tiongkok pada 2025 juga mencapai rekor baru dengan melampaui RMB 140 triliun (sekitar USD 20,22 triliun) untuk pertama kalinya, sekaligus memenuhi target pembangunan periode Repelita Ke-14 (2021–2025).

Secara keseluruhan selama periode tersebut, ekonomi Tiongkok mencapai jenjang yang baru dengan pertumbuhan PDB rata-rata tahunan sebesar 5,4%, jauh di atas rata-rata global, menurut laporan kerja pemerintah.

Laporan tersebut juga menyoroti berbagai terobosan dalam inovasi teknologi dan industri. Belanja nasional untuk litbang meningkat dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 10% selama lima tahun terakhir.

Stimson Center, lembaga kajian yang berbasis di Washington, dalam laporan Januari, menyebut bahwa keunggulan Tiongkok dalam inovasi teknologi diperkuat melalui "koordinasi terpusat", mencerminkan manfaat dari perencanaan jangka panjang.

"Beijing memperlakukan AI sebagai infrastruktur," tulis lembaga tersebut. "Melalui kebijakan industri dari tingkat pusat serta integrasi kuat antara desain dan produksi, Tiongkok dengan cepat menerapkan AI di berbagai sektor seperti manufaktur, pelabuhan, jaringan listrik, rumah sakit, dan produk konsumen."

Meningkatkan Kepercayaan dan Peluang bagi Dunia

Dalam konteks global, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 5% pada 2025 diperkirakan menyumbang sekitar 30% terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok kini menghasilkan sekitar seperenam dari total PDB global, serta menjadi mitra dagang utama bagi lebih dari 150 negara dan wilayah.

Di tengah ketidakpastian global dan kecenderungan fokus jangka pendek, Repelita Ke-15, rancangan awalnya diajukan ke sidang NPC untuk ditinjau, menawarkan tingkat kepercayaan strategis dan konsistensi yang jarang ditemui.

Dalam lima tahun ke depan, Tiongkok menargetkan untuk mempertahankan pertumbuhan PDB dalam kisaran yang wajar. Hal ini akan menjadi dasar penting untuk mencapai target melipatgandakan PDB per kapita Tiongkok dari tahun 2020 pada 2035, sehingga mencapai tingkat negara dengan pembangunan menengah.

Untuk memastikan pelaksanaan tujuan dan tugas dalam Repelita Ke-15, Tiongkok mengusulkan 109 proyek besar di enam bidang utama, mulai dari pengembangan kekuatan produktif berkualitas baru hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Untuk memperdalam integrasi dengan ekonomi global, Tiongkok juga berkomitmen memperluas kebijakan pintu terbuka dalam bidang ekonomi, menstabilkan perdagangan luar negeri dan meningkatkan strukturnya, memperluas kerja sama investasi dua arah, serta mendorong pembangunan berkualitas tinggi dalam Belt and Road Initiative.

Menurut laporan tersebut, Tiongkok juga akan memperluas akses pasar dan membuka lebih banyak sektor, terutama sektor jasa. Negara ini akan terus berpartisipasi aktif dalam reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta menjaga dan mengembangkan ekonomi dunia yang terbuka.

Analis geostrategi Imran Khalid, dalam opini di Eurasia Review, menyebut bahwa Sidang Dua Sesi 2026 merupakan momen penting bagi perekonomian global.

Menurutnya, ketika beralih menuju model ekonomi yang lebih berbasis pada konsumsi, Tiongkok menawarkan peluang baru bagi perekonomian global. "Bagi negara-negara Global South, Tiongkok tidak lagi sekadar pembeli komoditas mentah; negara tersebut kini menjadi mitra penting dalam infrastruktur digital dan energi hijau," tulisnya.

Ia juga menambahkan bahwa Tiongkok yang stabil menjadi penopang penting bagi ekonomi global yang saat ini tengah mencari mesin pertumbuhan baru.

https://news.cgtn.com/news/2026-03-05/How-China-offers-opportunities-for-world-with-strong-start-to-15th-FYP-1LglWRvr6ms/p.html

Peluang bagi aktivis pers pelajar, pers mahasiswa, dan muda/mudi untuk dilatih menulis berita secara online, dan praktek liputan langsung menjadi jurnalis muda di media ini. Kirim CV dan karya tulis, ke WA Center: 087815557788.

Berita Terkait

Abilitie, TED, dan St. Edward’s University luncurkan 12-week mini-MBA
Nancy L. Lewis, MD, MBS, FACP Dinobatkan Sebagai Chief Scientific Officer Baru untuk National Comprehensive Cancer Network (NCCN)
SANY Catat Kenaikan Laba Bersih Sebesar 41% pada 2025; Arus Kas Operasional Tembus US$2,80 Miliar
Japfa Food Indonesia Mentransformasi Perencanaan Rantai Pasokan Dengan RELEX
Komputer Misi Terbaru U-C860X Aitech yang Sesuai Standar SOSA Menghadirkan Pemrosesan Edge Berkinerja Tinggi dan AI/ML yang Dipercepat dengan Prosesor Intel Core Ultra Generasi ke-14
TXOne Networks Memperkuat Eksekusi Keamanan TO Melalui Model Skalabel Berbasiskan Kemitraan di Asia Pasifik
SMU Jadi Perguruan Tinggi dengan Kenaikan Peringkat Terbesar di Dunia dalam Daftar “QS Subject Rankings”
Supira Medical Mengumumkan Izin FDA Atas SUPPORT II Pivotal Trial Untuk Kemajuan Syok Kardiogenik, Dan Penunjukan D. Keith Grossman Sebagai Anggota Dewan Direksi
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 13:46 WIB

Abilitie, TED, dan St. Edward’s University luncurkan 12-week mini-MBA

Kamis, 9 April 2026 - 12:03 WIB

Nancy L. Lewis, MD, MBS, FACP Dinobatkan Sebagai Chief Scientific Officer Baru untuk National Comprehensive Cancer Network (NCCN)

Kamis, 9 April 2026 - 10:27 WIB

SANY Catat Kenaikan Laba Bersih Sebesar 41% pada 2025; Arus Kas Operasional Tembus US$2,80 Miliar

Kamis, 9 April 2026 - 10:04 WIB

Japfa Food Indonesia Mentransformasi Perencanaan Rantai Pasokan Dengan RELEX

Kamis, 9 April 2026 - 10:00 WIB

Komputer Misi Terbaru U-C860X Aitech yang Sesuai Standar SOSA Menghadirkan Pemrosesan Edge Berkinerja Tinggi dan AI/ML yang Dipercepat dengan Prosesor Intel Core Ultra Generasi ke-14

Kamis, 9 April 2026 - 04:38 WIB

SMU Jadi Perguruan Tinggi dengan Kenaikan Peringkat Terbesar di Dunia dalam Daftar “QS Subject Rankings”

Kamis, 9 April 2026 - 02:33 WIB

Supira Medical Mengumumkan Izin FDA Atas SUPPORT II Pivotal Trial Untuk Kemajuan Syok Kardiogenik, Dan Penunjukan D. Keith Grossman Sebagai Anggota Dewan Direksi

Kamis, 9 April 2026 - 02:18 WIB

CBME China 2026 — Tampilkan Tren Terbaru untuk Produk Kebutuhan Bayi dan Anak

Berita Terbaru